Bu… biarkan aku bernalam hari ini
Ku isi kau
dengan kata suram nan muram
Bu… empat kuartal sudah
Bisa ku
pastikan kau tak pernah tidur tenang
Bu… aku masih berulang – alik pada bait kepergian mu
Terlepoh jiwa
hari demi hari tak jua membaik
Bu… sudahlah… tak perlu naik turuni tangga bekas
rumah mu lagi
Kau tak
Lelah kah lihat duka yang sama dibilik kamar ku?
Bu… kau senang duduk dibangku putar sembari memandang
mantan lelakimu
ia sedang asik
bercumbu dengan pion – pionnya, sedang
kau asik diam tampak pasi
bu… kami jarang akur, aku yang acuh dan
ia yang ripuh
aku masih
melebur dengan kemalangan ku dan ia yang tak pernah lihat kesenduan mataku
bu… berhentilah, terlalu lama kau
terlena dengan Kematian fiktifmu itu, lekas bangun
aku mulai
penat menebar senyum berisi kepalsuan
bu… aku tidak punya rasa menyesal atas
siapa dan apa yang meninggalkan dan ditinggalkan
karna
penyesalan tumpah deras pada hatimu yang mati!
Bu… kita sama terperangkap tapi pada
ruang yang berbeda
Ruang ku
lebih mati dan sunyi
Bu… mereka buta. Bahwasanya hanya merekalah
tempatku berobat
Aku tak
punya peluk yang bisa ku bahasi dengan hiruk pikuk keripuhan ku
Bu… hidupku pun mati beriring dengan
kematian mu
Mimpi – mimpiku larut mati terbenam tak ada
yang peduli
Bu… ini nalam berselimut lara dariku,
kupastikan ini bukan yang terakhir karena luka tak tau kapan mengering.
Denyut doaku
untukmu takkan berhenti berdetak, akan tetap bergema pada ruang hampamu
No comments:
Post a Comment