Thursday, August 20, 2020

#11 - SEBELUM TIDURMU TERJAGA

Dipenghujung malam, sebelum mentari dengan bangga memancarkan cahaya kelabunya

kamu masih disamping ku, berbaring terpulas meringkuk kedinginan

maafkan aku yang kurang peka untuk lekas memelukmu

mataku tak habis menarap, aku terbuai dengan raut wajahmu yang berona

telingaku syahdu mendengar lantunan napas nan merdumu


Dipenghujung malam, sebelum kendaraan kota meraung 

kamu masih menjadi titik pandang yang kudambakan

"AKU INGIN MENJAGA TIDURMU! MENARIKMU DARI MIMPI BURUK TENTANG CINTA"

sambil  ku usap lembut keningmum, lalu turun pada hidungmu yang sebenarnya ingin ku gigit pucuknya


Maafkan sayang, keberanianku masih berbatas pada sajak - sajak  tentagmu

tindumu masih sebatas ciutan - ciutan kalbu

menurutku kau perlu tau, bahwa perasaanku tidak abu - abu

maafkan sayang, kau jelas kecewa

aku nekat berenang lagi kedasar, sedang kau susah memberiku nyawa

ntah berakhir melanjutkan kisah atau menyimpan cerita

harapannku telah jatuh-tumpah padamu

lekas tutup matamu, bermimpilah tentang ku sekali

ku janjian akan ada sajak-sajak lain tentangmu

 

Kau sumber aksara yang paling ku nanti unyuk kujadikan runtut kalimat indah

Sunday, August 2, 2020

#10 - EPILOG

Dari sekian banyak kisah yang terlewati
Sosok demi sosok
Waktu demi waktu
Pahit manis, sendu senda
Kulantunkan semua isi mati dan hidupnya hati ku
Kulantunkan derai derai kalimat merah dan putih
KAMU.
Kamu adalah titik dari sekian banyak koma yang ku lewati

#9 - RENJANA

Berselang malam itu
Ketika dua mata saling merelungkan pandangannya
Ketika dua nafas beradu saling meleburkan syahwatnya
Ketika dua tubuh saling mengkultuskan dukana melupakan waktu
Terselip kenyataan bahwa kita pengecut sayang...

Bukankah cinta itu membahagiakan ?
Lalu dimana letak bahagia jikalau yang kau rasa hanya duka
Bukankah cinta itu sakral kasih?
Lalu mengapa tak ada khidmat yang tercurah
Buraikan sayang, aku masih duduk direlung dingin sisi hatimu



#8 - BAHAGIA

memang sulit berduka tanpa air mata
hampir sepanjang malam aku berpeluk dengan air mata
aku percaya tuhan akan memberikan bahagia
dan harapanku pun cukup berhenti pada kata bahagia
aku percaya semakin tua kita semakin tua juga air mata
dan  hari ke hari semakin akrab dengan bahagia

DIRI

  Terima kasih diri. Rintang kehidupan memang tidak selalu tenang, kau rangkul dengan segala badainya