Dipenghujung malam, sebelum mentari dengan bangga memancarkan cahaya kelabunya
kamu masih disamping ku, berbaring terpulas meringkuk kedinginan
maafkan aku yang kurang peka untuk lekas memelukmu
mataku tak habis menarap, aku terbuai dengan raut wajahmu yang berona
telingaku syahdu mendengar lantunan napas nan merdumu
Dipenghujung malam, sebelum kendaraan kota meraung
kamu masih menjadi titik pandang yang kudambakan
"AKU INGIN MENJAGA TIDURMU! MENARIKMU DARI MIMPI BURUK TENTANG CINTA"
sambil ku usap lembut keningmum, lalu turun pada hidungmu yang sebenarnya ingin ku gigit pucuknya
Maafkan sayang, keberanianku masih berbatas pada sajak - sajak tentagmu
tindumu masih sebatas ciutan - ciutan kalbu
menurutku kau perlu tau, bahwa perasaanku tidak abu - abu
maafkan sayang, kau jelas kecewa
aku nekat berenang lagi kedasar, sedang kau susah memberiku nyawa
ntah berakhir melanjutkan kisah atau menyimpan cerita
harapannku telah jatuh-tumpah padamu
lekas tutup matamu, bermimpilah tentang ku sekali
ku janjian akan ada sajak-sajak lain tentangmu
Kau sumber aksara yang paling ku nanti unyuk kujadikan runtut kalimat indah
No comments:
Post a Comment